Saat terjaga dari tidur nyenyakku kurasakan sesuatu yang dingin menyentuh kakiku.
"Denny bangun, sudah sore. Mandi dulu. Ayo, bangun"
Sontak aku terbangun kaget. Ternyata Shinta berdiri di ujung tempat tidur sedang mengguncang-guncang kakiku. Aku meliukkan badan, dan mataku terpejam lagi.
"Heeeh...haayoo bangun. Mandi dulu", ganggu Shinta sambil kembali mengguncangkan kakiku. Aku membalikkan badan. Enak sekali tidurku. Rasanya masih ingin tidur lagi. Kulirik jam dinding menunjuk pukul 4 sore lebih.
"Bu Nina sudah pulang, Ta?", tanyaku. Shinta menggeleng, dan kembali memintaku mandi. Oh ya, umurku waktu itu masih 12 tahun, masih kelas 6 SD. Shinta adalah salah satu pembantu kami. Umurnya sekitar 30 tahun. Dia sudah lama ikut kami. Dia satu dari tiga pembantu kami. Shinta senantiasa bertugas melayani keperluanku dan keperluan Bu Nina. Mulai dari mempersiapkan keperluan mandi, makan, apa saja. Karena itu aku lebih dekat dengan Shinta daripada dengan Mbah Karso atau Yu Parmi.
"Bu Nina kok belum pulang to, Ta?", tanyaku ke Shinta yang tengah duduk di tepi ranjang seraya menatapku.
"Mungkin sampai malam. Kan sudah kutakan tadi pagi ke Praci"
Bu Nina adalah pedagang hasil bumi. Selain menerima setoran hasil bumi dari para petani, seringkali Bu Nina hunting dagangan sampai ke kota-kota kecamatan. Sesekali aku diajak oleh Bu Nina.
"Ayo mandi dulu, Den", bujuk
Shinta. Aku pun beranjak. Shinta mengangsurkan handuk, dan aku menuju kamar mandi. Shinta mengikutiku dari belakang.